Beranda > Renungan > Optimis

Optimis

Mendengar kata optimis sungguh menyenangkan karena disana ada harapan, cita-cita dan keinginan kuat untuk menggapainya. Tak terasa waktu telah mengantarkan kita pada setiap harapan, cita-cita dan keinginan yang tercetus dihati. Semenjak kecil diajari untuk memiliki harapan dan cita-cita yang tinggi, tapi semua itu berjalan begitu saja tanpa ada pertanyaan mengapa  harus jadi ini atau jadi itu, yang penting orang disekeliling menganggapnya sebagai sesuatu yang baik. Pada umumnya memang semua itu baik memiliki cita-cita tinggi jadi seorang dokter, presiden, pilot, ahli sains dan seterusnya, hanya saja sepertinya ada yang kurang dalam proses menggapai yang disebut dengan cita-cita atau harapan tersebut.

Yang kurang itu adalah kesadaran mengapa harus mempunyai harapan atau cita-cita yang tinggi, karena kesadaran akan hal tersebut menjadikan penunjuk arah agar siapa saja yang memiliki cita-cita tinggi selalu berusaha mencapainya dengan fokus dan tidak mudah terbuai dengan godaan godaan yang menjauhkannya dari harapan dan cita-cita yang tinggi tersebut. Mengapa kesadaran atau rasa sadar ini sangat diperlukan? karena dengan kesadaran maka kita akan kritis terhadap proses pencapaian terhadap cita-cita tesebut, kritis berarti selalu bertanya mengapa harus mempunyai cita-cita tinggi, adakah yang lebih baik lagi dari cita-cita sebelumnya dan seterusnya. Kemudian bagaimana agar semua harapan tersebut bisa dicapai, adakah jalan tercepat yang mengantarkan terhadap harapan tersebut, begitulah setiap kita seharusnya menyadari pentingnya proses sebuah pencapaian.

Kesadaran akan menumbuhkan sikap optimis karena pikiran akan selalu dihadapkan pada harapan atau impian yang kualitasnya berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. sebaliknya ketidaksadaran akan proses ini maka menyebabkan seseorang terus tergoda dengan pilihan atau jalan-jalan pintas yang justru menjauhkannya dari harapan dan cita-cita besarnya, menjadikannya rendah diri dan menjadi pesimis, kalah sebelum pertandingan itu dimulai.

Pengalaman setiap orang adalah pelajaran bagi dirinya dan orang lain, oleh karenanya sikap optimis ini harus diajarkan pada anak-anak kita dan memberikan ruang kepada mereka untuk bisa kreatif berpikir, bermimpi dan sadar sepenuhnya dengan harapan dan cita-cita besar mereka.

Categories: Renungan
  1. Desember 2, 2010 pada 3:20 am | #1

    materi menarik. terima kasih telah berbagi..

    • Desember 4, 2010 pada 2:41 pm | #2

      Sama-sama terima kasih telah berkunjung, semoga bisa jadi jembatan silaturahmi melalui kegiatan tulis menulis ini, InsyaAllah.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.